My photo
“…..Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal…”-Al-Anfal:2-

Friday, March 12, 2010

The seven secrets of highly successful PhD students

motivation for all..esp yang sedang buat phd and nak kena buat phd....

Quoted from - (http://www.pgoracle.uea.ac.uk/node/155)


1. Care and maintenance of your supervisors

  • Meet regularly with your supervisors (even if they think it is not that necessary)
  • Discuss and negotiate your progress regularly
  • Understand your different styles. If your supervisor keeps wanting you to follow up new leads and you are happy to, and you are five years into your study, it is time to get some outside perspective and guidance
  • If it is not working out, do something about it. Don't just think it will get better or that you can do it on your own

2. Write and show as you go: This is show and tell, not hide and seek

  • Always write and show as you go. If you are reading and not writing, after about 3 or 4 weeks you will forget what you have read
  • Writing and showing your work forces you to stay on track and refine your thinking
  • Writing is helpful because at the end you can't hand in your head full of lots of good ideas
  • Set deadlines for your writing and handing in. People generally don't write because of issues of perfectionism, so avoid this with deadlines
  • Generally it is a good idea to write journal articles (on your exact thesis topic), as you go
  • Practice writing with your peers, this can be very effective

3. Be realistic: It's not a Nobel Prize

  • When you are doing PhD you are learning how to do a PhD, you are not expected to know this in advance
  • Original work does not mean a cure for cancer. In reality it means one small step in advancing existing knowledge
  • Do not go off on tangents in the hope of answering 'The question', stay focused
  • You have a cast iron guarantee right now that your thesis will not, cannot and probably should not, be perfect
  • Separate yourself from your PhD. It's a bunch of thoughts on a piece of paper, it's not you. Put it in perspective

4. Say no to distractions: Even the fun ones and the ones you think you must do

  • Set priorities and be realistic about what you can do
  • Do the important rather than the immediately urgent
  • Cleaning scum build-up from the shower may be more fun than your PhD, but it won't get the thesis done. Resist this and other urges, and keep writing!
  • The golden rule to avoid over-commitment is don't let anything eat into your set study times, or as you would with a job, make the time up if interruption is unavoidable

5. It's a job: That means working nine to five but you get holidays

  • You may not work from nine to five, but you definitely need fixed hours. Otherwise how should you know when you should be working?
  • Set up a proper workplace. A bus station, university corridor or the lounge room with a TV on are not proper work areas
  • Like a job, if you take time off, make it up somewhere else. You wouldn't just not show up to work for three days with no consequences
  • Set deadlines and targets. There are very few jobs where the boss says "I'll see you in three years time with that report"
  • When you stick to your work times, you get guilt-free time off in the evenings and holidays (like a job). Don't try to squeeze more out of yourself. You'll just kill the goose that lays the golden eggs

6. Get help: You are not an owner-operator single person business

  • This means you are allowed to get help. Not only are you allowed, but you will greatly reduce time and effort if you do
  • Get help from statistics consultants, editors, methodologists, academics, peers, your supervisors...
  • Use any and all formal assistance in the university/institution including tutors and graduate schools, skills development and faculty staff

7. You can do it: A PhD is about intelligence and persistence

  • You would not have got this far if you did not have the intelligence to do it. If you feel like impostor, be reassured that most people doing a PhD feel that way
  • Persistence is at least as important ingredient; this comes from habits like meeting regularly with your supervisors, treating PhD like a job etc.
  • So in fact the final habit of a highly effective PhD researcher is to know and believe that you can do it, and when the going gets tough, keep going!

Thursday, March 11, 2010

La Tahzan (Janganlah Bersedih) - Ingatan buat diri sendiri yang sering lupa

Salam ukhwah fillah dan salam kasih sayang...

Hari-hari yang berlalu pastinya bukan hanya mencorakkan warna-warna ceria untuk kita…tidak selamanya hari akan cerah..kadangkala mendung itu muncul..dan kadang-kadang pelangi juga mewarnai hidup...semoga kata-kata yang saya posting ini dapat menghindarkan kita dari rasa bersedih dan rasa tertekan kerana cabaran yang mendatang...sebagai peringatan untuk diri sendiri juga...

Jangan Bersedih….

(ditujukan kepada semua sahabat-sahabat yang sedang diuji, yang telah diuji & yang belum diuji…bersabarlah kerana Allah. Dan sebaiknya anda bersabar sebagaimana kesabaran orang yang yakin akan datangnya kemudahan, mengetahui tempat kembali yang baik, mengharap pahala dan senang mengingkari kejahatan. Seberapa pun besar permasalahan yang anda hadapi, tetaplah bersabar. Kerana kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran, jalan keluar datang bersama kesusahan dan dalam setiap kesusahan itu ada kemudahan.)

Banyak di antara kita yang lebih bersedih pada urusan-urusan duniawi, misalnya :

1. Bersedih kerana sedikitnya harta,

2. Bersedih kerana belum mendapatkan jodoh,

3. Bersedih kerana belum memiliki anak,

4. Bersedih kerana kerja banyak,

5. Bersedih kerana kematian

Setiap orang sudah pasti akan mati, menemui Tuhannya, masuk syurga atau neraka. Jangan pernah berpikir bahwa kematian kita akan datang pada usia 70 atau 80 tahun, misalnya.
Tetapi berpikirlah bagaimana kita mengisi waktu dengan kebaikan.

Para ulama adalah orang yang hidup sederhana. Jika mendapatkan harta sekian, mereka mensyukurinya dan merasa cukup ( qana’ah) dengannya. Sebut saja misalnya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Rabi’ah al-Adawiyah, dan Sayyid Quthb. Mereka hidup menbujang hingga wafatnya, tapi mereka tidak bersedih karena belum menikah. Imam Bukhari hingga wafatnya belum memiliki anak satu pun, tapi tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia meratap kerana tidak dikurniakan anak.

Setiap yang bernyawa itu pasti akan merasai mati. Apabila telah tibanya ajal, tidak akan didahulukan ataupun dilewatkan walau sesaat. Imam Ghazali berkata "Mati itu pasti tiba, persediaan untuk itu lebih berguna daripada persediaan dunia". Nabi Muhammad S.A.W pula bersabda "Mati itu adalah paling dekat dengan ghaib".

Ditinggalkan orang yang disayangi membuatkan kita sedih. Apatah lah perginya buat selamanya. Hilangnya tempat bermanja, Hilangnya tidak berganti dan yang pastinya hilangnya tidak akan kembali lagi. Apabila kita mengalami keadaan ini, ucapkanlah "Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun". Sedih...sudah pasti kita akan mengalirkan airmata kesedihan.

Tetapi, benarkan kita sayang padanya?

Sayang akan orang yang meninggalkan kita?

Sayang sehingga kita tidak dapat mengawal emosi... meratapi pemergiannya penuh syahdu.

Itukah yang dinamakan sayang?


Riwayat Al-Bukhari " Bermula mayat itu diazab dalam kuburnya sebab diratapi ke atasnya".

Nabi Muhammad S.A.W bersabda yang bermaksud "Orang yang meratapi (kematian) kelak sewaktu berbangkit dari kuburnya di hari kemudian, hal keadaannya kusut masai, berdebu-debu dan akan dipakaikan kepadanya pakaian rantai dari belerang neraka serta tetaplah ia dalam kemurkaan Allah dan besar sungguhlah penyesalannya di hari kemudian".

"Sesungguhnya mayat itu bakal diazab disebabkan oleh ratapan keluarga ke atasnya".

Apabila kita meratapi kematian, orang tersebut akan menerima pukulan daripada malaikat Zabaniyah sehingga tulangnya bercerai-berai. Pedihnya seksaan yang diterima di alam kubur, sedangkan kita masih menyebut-nyebut nama dan sifatnya. Tiada maknanya ungkapan sayang yang kita ungkapkan, jika kematiannya jika penuhi dengan ratapan yang tiada sudahnya...

Ubatilah kesedihan hati dengan membanyakkan solat, bacaan Al-Quran, dan zikir…hadiahkanlah buat yang telah tiada…rohnya akan lebih tenang di sana, InsyaAllah..

Kebahagiaan seseorang itu tidak diukur dari material duniawi, melainkan dari kebenaran yang sedang ditegakkannya dan kedekatannya pada Allah SWT. Bersedih karena urusan-urusan duniawi tidaklah menenteramkan hati dan tidaklah menambah kebaikan apa pun kepada kita. Sebaliknya, kesedihan hanya menambah gelodak dalam jiwa kita.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi salah seorang tabi’in yang sedang menangis, maka orang itu menaruh belas kasihan kepadanya. Ia lalu bertanya, ”Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah ada rasa sakit yang kau alami?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.”

Orang tadi bertanya lagi, ”Apakah kamu mendapat berita bahwa salah seorang anggota keluargamu meninggal dunia?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.”

Orang itu bertanya lagi, ”Apakah kamu kehilangan hartamu?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu

Laki-laki itu pun kehairanan sambil berkata, ”Lalu, apakah yang lebih dahsyat dari semua itu?” Tabi’in itu menjawab, ”Kemarin, karena tertidur, saya lupa bangun malam ( tahajud ).”

Semestinya memang itulah yg harus kita sedihkan ……

Solat yang tidak khusyuk, tidak mengisi waktu luang dengan amal shalih, tidak qiyamul lail, atau tidak bersedekah. Atau, melalaikan segala amal shalih lainnya padahal seharusnya kita sempat mengerjakannya.

Kita bersedih mestinya kerana bekal untuk akhirat belum terisi penuh, padahal kita tak pernah tahu sampai batas mana usia kita. Lalu kesedihan itu akan menggerakkan hati untuk menjadi manusia yang lebih baik. Wallahualam…