My photo
“…..Sesungguhnya orang-orang yang beriman adalah mereka yang apabila disebut nama Allah gementar hatinya, dan apabila dibacakan ayat-ayatNya kepada mereka, bertambah (kuat) imannya dan hanya kepada Tuhan mereka bertawakal…”-Al-Anfal:2-

Thursday, March 11, 2010

La Tahzan (Janganlah Bersedih) - Ingatan buat diri sendiri yang sering lupa

Salam ukhwah fillah dan salam kasih sayang...

Hari-hari yang berlalu pastinya bukan hanya mencorakkan warna-warna ceria untuk kita…tidak selamanya hari akan cerah..kadangkala mendung itu muncul..dan kadang-kadang pelangi juga mewarnai hidup...semoga kata-kata yang saya posting ini dapat menghindarkan kita dari rasa bersedih dan rasa tertekan kerana cabaran yang mendatang...sebagai peringatan untuk diri sendiri juga...

Jangan Bersedih….

(ditujukan kepada semua sahabat-sahabat yang sedang diuji, yang telah diuji & yang belum diuji…bersabarlah kerana Allah. Dan sebaiknya anda bersabar sebagaimana kesabaran orang yang yakin akan datangnya kemudahan, mengetahui tempat kembali yang baik, mengharap pahala dan senang mengingkari kejahatan. Seberapa pun besar permasalahan yang anda hadapi, tetaplah bersabar. Kerana kemenangan itu sesungguhnya akan datang bersama dengan kesabaran, jalan keluar datang bersama kesusahan dan dalam setiap kesusahan itu ada kemudahan.)

Banyak di antara kita yang lebih bersedih pada urusan-urusan duniawi, misalnya :

1. Bersedih kerana sedikitnya harta,

2. Bersedih kerana belum mendapatkan jodoh,

3. Bersedih kerana belum memiliki anak,

4. Bersedih kerana kerja banyak,

5. Bersedih kerana kematian

Setiap orang sudah pasti akan mati, menemui Tuhannya, masuk syurga atau neraka. Jangan pernah berpikir bahwa kematian kita akan datang pada usia 70 atau 80 tahun, misalnya.
Tetapi berpikirlah bagaimana kita mengisi waktu dengan kebaikan.

Para ulama adalah orang yang hidup sederhana. Jika mendapatkan harta sekian, mereka mensyukurinya dan merasa cukup ( qana’ah) dengannya. Sebut saja misalnya Imam Ahmad bin Hanbal, Imam Ibnu Taimiyah, Rabi’ah al-Adawiyah, dan Sayyid Quthb. Mereka hidup menbujang hingga wafatnya, tapi mereka tidak bersedih karena belum menikah. Imam Bukhari hingga wafatnya belum memiliki anak satu pun, tapi tak pernah sekalipun dalam hidupnya dia meratap kerana tidak dikurniakan anak.

Setiap yang bernyawa itu pasti akan merasai mati. Apabila telah tibanya ajal, tidak akan didahulukan ataupun dilewatkan walau sesaat. Imam Ghazali berkata "Mati itu pasti tiba, persediaan untuk itu lebih berguna daripada persediaan dunia". Nabi Muhammad S.A.W pula bersabda "Mati itu adalah paling dekat dengan ghaib".

Ditinggalkan orang yang disayangi membuatkan kita sedih. Apatah lah perginya buat selamanya. Hilangnya tempat bermanja, Hilangnya tidak berganti dan yang pastinya hilangnya tidak akan kembali lagi. Apabila kita mengalami keadaan ini, ucapkanlah "Inna lillahi wa inna ilaihi raajiun". Sedih...sudah pasti kita akan mengalirkan airmata kesedihan.

Tetapi, benarkan kita sayang padanya?

Sayang akan orang yang meninggalkan kita?

Sayang sehingga kita tidak dapat mengawal emosi... meratapi pemergiannya penuh syahdu.

Itukah yang dinamakan sayang?


Riwayat Al-Bukhari " Bermula mayat itu diazab dalam kuburnya sebab diratapi ke atasnya".

Nabi Muhammad S.A.W bersabda yang bermaksud "Orang yang meratapi (kematian) kelak sewaktu berbangkit dari kuburnya di hari kemudian, hal keadaannya kusut masai, berdebu-debu dan akan dipakaikan kepadanya pakaian rantai dari belerang neraka serta tetaplah ia dalam kemurkaan Allah dan besar sungguhlah penyesalannya di hari kemudian".

"Sesungguhnya mayat itu bakal diazab disebabkan oleh ratapan keluarga ke atasnya".

Apabila kita meratapi kematian, orang tersebut akan menerima pukulan daripada malaikat Zabaniyah sehingga tulangnya bercerai-berai. Pedihnya seksaan yang diterima di alam kubur, sedangkan kita masih menyebut-nyebut nama dan sifatnya. Tiada maknanya ungkapan sayang yang kita ungkapkan, jika kematiannya jika penuhi dengan ratapan yang tiada sudahnya...

Ubatilah kesedihan hati dengan membanyakkan solat, bacaan Al-Quran, dan zikir…hadiahkanlah buat yang telah tiada…rohnya akan lebih tenang di sana, InsyaAllah..

Kebahagiaan seseorang itu tidak diukur dari material duniawi, melainkan dari kebenaran yang sedang ditegakkannya dan kedekatannya pada Allah SWT. Bersedih karena urusan-urusan duniawi tidaklah menenteramkan hati dan tidaklah menambah kebaikan apa pun kepada kita. Sebaliknya, kesedihan hanya menambah gelodak dalam jiwa kita.

Dikisahkan bahwa seorang laki-laki pernah mendatangi salah seorang tabi’in yang sedang menangis, maka orang itu menaruh belas kasihan kepadanya. Ia lalu bertanya, ”Apa yang menyebabkanmu menangis? Apakah ada rasa sakit yang kau alami?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.”

Orang tadi bertanya lagi, ”Apakah kamu mendapat berita bahwa salah seorang anggota keluargamu meninggal dunia?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu.”

Orang itu bertanya lagi, ”Apakah kamu kehilangan hartamu?” Tabi’in itu menjawab, ”Lebih dahsyat dari itu

Laki-laki itu pun kehairanan sambil berkata, ”Lalu, apakah yang lebih dahsyat dari semua itu?” Tabi’in itu menjawab, ”Kemarin, karena tertidur, saya lupa bangun malam ( tahajud ).”

Semestinya memang itulah yg harus kita sedihkan ……

Solat yang tidak khusyuk, tidak mengisi waktu luang dengan amal shalih, tidak qiyamul lail, atau tidak bersedekah. Atau, melalaikan segala amal shalih lainnya padahal seharusnya kita sempat mengerjakannya.

Kita bersedih mestinya kerana bekal untuk akhirat belum terisi penuh, padahal kita tak pernah tahu sampai batas mana usia kita. Lalu kesedihan itu akan menggerakkan hati untuk menjadi manusia yang lebih baik. Wallahualam…





2 comments:

ajih said...

maya, aku sedih sebab kena bayar saman potong double line bulih?

MaYa ZaiNaL said...

waaa, pak ajih dah balik berenang-renang ni...mana ko nye cert diving? tayang la sket kat blog tu....

p/s - sungguh laju mung bawak keta, kena saman nih, isk isk isk...